Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjebak Dalam Algoritma Media Sosial

Terjebak Algoritma Filter Bubble


Media sosial memiliki peran besar dalam kehidupan sesorang di dunia maya. Medsos (media sosial) telah menjadi bagian dari kehidupan para kalangan, baik dari yang muda hingga yang tua, dengan media sosial kita tidak hanya berkomunikasi, tetapi juga saling bertukar informasi, diskusi, berjualan, personal branding dan sebagainya. 

Saat ini pengguna media sosial di Indonesia menurut Hootsuite telah mencapai 160 juta pengguna pada Januari 2020. Jumlah pengguna media sosial di Indonesia meningkat 8,1% antara April 2019 hingga Januari 2020. 

Media sosial dibangun dengan dasar algoritma pemasaran, yang mana algoritma tersebut selalu berubah setiap waktu atas dasar penggunanya. Sangat sulit untuk mengetahui algoritma kode etik pemasaran, tidak ada cara yang pasti untuk mengetahui setiap detail perubahan.

Bermain medsos sangatlah menyenangkan, melihat konten-konten menarik yang bisa menaikkan atau mengembalikan mood yang sedang kacau. 

Sering kali kita menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scrolling melihat konten-konten di media sosial, tanpa disadari hal tersebut hanya menyita waktu dan membuat kita merasa ketagihan akan melakukan hal yang sama di hari yang akan datang.

Pada artikel ini kita akan memahami algoritma pada media sosial.


Apa itu Algoritma Media Sosial?

Algoritma Media Sosial merupakan sebuah aturan untuk melakukan perhitungan menentukan sekumpulan data perilaku para pengguna dan diproses untuk keperluan pemasaran. 

Sekumpulan data tersebut yaitu seperti kamu menyukai suatu postingan, mem-follow seseorang, seberapa lama kamu melihat foto, membaca cookies perangkat pengguna, seberapa sering kamu aktif di media sosial, seberapa sering kamu klik iklan, dan lain-lain. 

Pada media sosial, algoritma ini dapat membantu dalam menentukan peringkat hasil pencarian dan iklan.

Beberapa dari kita memutuskan untuk mencari tau tentang topik tertentu. Sebagian besar men-scroll media sosial dan mengklik apa pun yang terlihat menarik, kemungkinan besar kita tidak melakukan ini dengan maksud untuk memahami tentang topik tersebut, tetapi kita tampak begitu polos, sehingga kita akan dibuat seolah-olah penasaran dengan topik tersebut.

Pernahkah gak sih kamu ngalamin seperti isi timeline/berandanya sama semua hanya itu-itu aja? seperti konten motorsport ya motorsport semua, tentang makanan ya makanan semua, baik foto maupun video.

Jika kamu mengalami hal tersebut tandanya kamu sudah terjebak dalam algoritma media sosial yang bernama Filter Bubble Effect (Efek gelembung saringan).


Apa itu Filter Bubble Effect?

Efek Filter Bubble merupakan sebuah istilah yang menggambarkan bagaimana algoritma menentukan informasi apa saja yang kita (pengguna) temukan di internet.

Setiap kali kita mengklik, menonton, membagikan, berkomentar, atau menyukai, mesin pencari (contohnya google) dan platform media sosial bekerja sama untuk mengumpulkan informasi yang dilakukan pengguna secara online.

Contoh sederhananya ketika kita menyukai atau menonton suatu konten yang bertema motorsport, maka algoritma ini akan bekerja menampilkan postingan yang bertema dengan motorsport di timeline/beranda media sosial kalian.

Artikel terkait: Mengenal Jejak Digital

Mungkin dari kalian ada yang berpikir "Keren banget ini, bisa tau apa yang gw suka".

Dengan topik yang kamu suka, kamu akan merasa nyaman dan betah terhadap topik tersebut. Kamu akan masuk ke dalam kurungan yang hanya membahas satu topik saja.

Hal ini mengakibatkan kita terjebak dalam zona nyaman media sosial.

Lalu apa dampak yang diakibatkan?


Dampak Terjebak dalam Kurungan Filter Bubble

Dampaknya yaitu kita tidak dapat mengetahui informasi-informasi yang lain, karena kita hanya terfokus pada topik itu-itu saja, sehingga membuat wawasan dan sudut pandang kita menjadi sempit terhadap suatu hal lain. Hal ini membuat seseorang terisolasi secara intelektual.

Ciri-ciri orang yang sudah terjebak dalam algoritma ini adalah ketika seseorang dicekoki informasi tentang bahaya dari suatu pemikiran tertentu, maka ia akan menolak gagasan lain, sehingga terciptanya kecenderungan terhadap satu pemikiran yang menyebabkan timbulnya fanatik.

Filter bubble menciptakan efek konsensus yang salah, akibatnya informasi yang diperoleh dari seseorang yang sepaham dengan dirinya mengklaim dan menyimpulkan bahwa pendapatnya itu pendapat mayoritas. Padahal di tempat lain pendapatnya itu mungkin saja berbeda. 

Hal ini menyebabkan rusaknya demokrasi di Indonesia yang hanya melihat dari satu sudut pandang saja.

Algoritma ini bisa ditemukan pada media sosial seperti Instagram, facebook, dan Tik Tok, begitu juga dengan YouTube.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari kurungan algoritma ini?


Keluar dari Kurungan Filter Bubble

Caranya yaitu kita harus pandai-pandai dalam mem-follow atau mengikuti seseorang, apa yang kamu ikuti maka itu lah yang akan muncul. Rajin membersihkan cache aplikasi media sosial, karna cache itu merupakan data-data kamu yang tersimpan selama kamu berselancar di internet/menggunakan media sosial. 

Jangan sering menggunakan media sosial, itu hanya menyita waktumu, cobalah lebih produktif, mencoba hal baru atau melakukan apa yang kamu sukai. Atau kamu bisa tinggalkan media sosial, sebab jika kamu menggunakannya secara berlebihan akan berdampak pada kondisi mental.

Algoritma ini memang sangat diuntungkan bagi kedua belah pihak, yaitu pengiklan dan platform media sosial itu sendiri. Karena target pasar mudah ditentukan dengan menggunakan algoritma ini.

Muhammad Rifki Apriansyah
Muhammad Rifki Apriansyah Seorang pelajar yang sering berselancar di internet, gemar teknologi, dan menyukai Front-End.

Posting Komentar untuk "Terjebak Dalam Algoritma Media Sosial"