Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memahami Pentingnya Nomor Telepon

Memahami pentingnya nomor telepon

Memahami Pentingnya Nomor Telepon - Nomor telepon sudah layak menjadi identitas penting pada kehidupan era digital ini. Nomor telepon banyak digunakan berbagai macam hal, tidak hanya untuk berkomunikasi saja. Seberapa pentingkah nomor telepon pada kehidupan saat ini?

Dahulu kita mengetahui bahwa nomor telepon hanya digunakan untuk memanggil satu sambungan telepon ke sambungan yang lain dalam jaringan telekomunikasi telepon atau sederhananya berkomunikasi dua arah dalam jaringan telekomunikasi. 

Pada saat sebelum adanya ponsel, ketika kita ingin berkomunikasi dengan seseorang yang jauh, kita harus datang ke wartel (warung telepon) untuk dapat berkomunikasi.


Era Ponsel Genggam

Seiring dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi semakin berkembang. Lalu ditemukanlah sebuah ponsel genggam. Fungsi ponsel genggam pada saat itu ialah kita dapat berkomunikasi dengan seseorang baik melalui suara ataupun SMS (Short Message Service / Layanan Pesan Singkat). Dan juga dapat menjelajah internet yaitu dengan menggunakan pulsa (alat satuan hitung biaya telepon).

Pada era ini sedang tren yang namanya bertukar nomor telepon. Jadi dengan bertukar nomor telepon kita saling menyimpan nomor dan dapat menghubunginya kapan pun yang kita mau dan tanpa harus menghapal nomor tersebut. 

Pada saat itu juga ada tren nomor telepon cantik. Nomor telepon cantik yang dimaksud adalah sebuah nomor telepon yang ditawarkan ISP (Penyedia Layanan Internet) dengan angka yang unik (unik dalam artian adalah mudah diingat). Nomor telepon cantik dijual dengan harga yang lumayan. 

Jadi, dengan membeli nomor telepon cantik tersebut orang lain dapat dengan mudah menghapal dan mengingat nomor tersebut. 

Seiring dengan berkembangnya kemajuan teknologi, kejahatan pun mulai muncul. Tren kejahatan pada saat itu ialah modus meminta-minta pulsa atau uang atas nama orang dalam anggota keluarga atau kerabat terdekat. 

Nama modusnya ialah seperti mamah minta pulsa, meminta uang untuk membayar rumah sakit dengan mengatasnamakan anggota keluarga atau kerabat yang mengalami kecelakaan atau sakit dan masih banyak kejahatan lainnya. Saat itu banyak yang menjadi korban karna para pengguna saat itu masih terlalu awam. Setelah itu barulah nomor telepon sudah menjadi hak privasi dari setiap orang.


Era Smartphone (Ponsel pintar)

Zaman pun telah berubah dan teknologi semakin canggih. Munculah sebuah ponsel yang lebih pintar daripada generasi sebelumnya yang dinamakan Smartphone (Ponsel pintar). 

Pada era ini smartphone/gadget telah mengubah kehidupan seseorang. Dengan smartphone kita dapat menjelajah internet dengan menggunakan kuota (paket data layanan internet yang ditawarkan oleh ISP), berkomunikasi tatap muka (Video Call), layanan pesan singkat, dan masih banyak lagi.

Di era ini nomor telepon sangat berguna untuk mendaftar ke platform manapun seperti media sosial, layanan aplikasi chatting, dan lainnya. Fungsi memasukan nomor telepon pada saat mendaftar ialah untuk mengirim sebuah kode OTP (One Time Password) yang digunakan untuk memverifikasi pendaftaran bahwa saat mendaftar itu bukanlah bot. 

Selain untuk memverifikasi akun pada saat mendaftar, nomor telepon juga bisa digunakan reset password ketika kita lupa password pada saat mendaftar di platform tersebut, caranya sama yaitu dikirim kode OTP.

Selain untuk memverifikasi akun, nomor telepon juga berfungsi sebagai 2FA (Two Factor Authentication / otentikasi dua faktor) pada saat login, sederhananya untuk memverifikasi dua langkah pada saat login, ini berguna untuk menghindari ketika data kita telah bocor. 

Contohnya yaitu seperti Google yang memiliki fitur 2FA untuk keamanan login. Sekarang platform manapun sudah banyak menerapkan fitur 2FA ini, guna untuk menjaga privasi data pengguna dari orang yang tidak bertanggung jawab.

Pada era ponsel pintar banyak sekali timbul kejahatan, yang membuat para pengguna semakin resah. Pasalnya para pelaku kejahatan berbondong-bondong untuk mendapatkan akun yang diincar, untuk mendapatkan akses penuh ke suatu platform. Yaitu dengan cara menggunakan beberapa teknik hacking

Pelaku kejahatan biasanya mengincar nomor telepon korban untuk melakukan aksi teror, dengan cara menakut-nakuti atau berpura-pura sebagai orang penting dari sebuah perusahaan melalui email atau media sosial. 

Setelah nomor telepon sudah didapatkan oleh pelaku, pelaku akan coba membobol beberapa akun yang didaftarkan menggunakan nomor telepon tersebut, lalu akan mengetahui segalanya tentang korban, seperti nama, tanggal lahir, alamat rumah, dan nama setiap anggota keluarga. 

Dengan data-data pribadi tersebut pelaku dapat memanfaatkannya untuk menerobos segala jenis akun si pemilik nomor telepon tersebut, misalnya seperti mengambil alih akun bank atau masuk dengan akses penuh ke suatu platform seperti WhatsApp.


Belakangan ini aplikasi pinjaman online menjamur. Aplikasi jenis ini memungkinkan penggunanya meminjam uang atau membeli barang dengan cara dicicil, tanpa kartu kredit. Salah satu alasan berkembangnya pinjaman online, berikut jenis fintech lending lainnya, ialah ketiadaan syarat yang berbelit-belit. 

Calon peminjam cukup menyerahkan KTP untuk memperoleh dana segar atau barang yang diinginkan. Sayangnya, aplikasi pinjaman online umumnya meminta hak akses ke bagian-bagian sensitif ponsel penggunanya. 

Misalnya, meminta akses membaca/melihat daftar kontak si pengguna, akses log telepon, hingga SMS. Dengan demikian nomor telepon tersebut akan digunakan untuk menawarkan beberapa pinjaman melalui SMS ataupun aplikasi meskipun kita sudah tidak menggunakannya dan tidak berhubungan lagi dengan pinjaman online. 

Seperti sekarang ini, sering kali kita melihat SMS masuk dari pinjaman online, padahal kita tidak pernah melakukan pinjaman ataupun mendaftar aplikasi pinjaman online. 

Lantas bagaimana dia mendapatkan nomor telepon kita? 

Mungkin dari kita pernah melakukan isi pulsa melalui gerai/konter tempat pengisian pulsa, pada saat pengisian pulsa kita diminta untuk menuliskan nomor telepon di buku telepon. Nah tahukah kamu, bahwa pemilik gerai/konter tersebut menjual buku yang berisi nomor telepon kepada para pelaku kriminal atau pihak pemberi dana pinjaman.


Webinar Abal-abal

Semenjak pandemi Covid-19 menyerang, acara seperti seminar ditiadakan, lalu diubah menjadi webinar. Webinar ini sebenarnya emang sama seperti seminar, tetapi yang membedakannya yaitu dilakukan secara daring dan tatap muka. 

Sebelum mengikuti webinar kita diharuskan mendaftar untuk mengikuti kegiatan acara tersebut, baik ada yang gratis maupun ada yang bayar pada saat pendaftaran. Pendaftaran berbayar biasanya diiming-imingi dengan e-sertifikat agar terkesan profesional. 

Pada saat mengisi formulir pendaftaran biasanya disuruh memasukan alamat email, nama, dan nomor telepon, guna untuk mendata siapa saja yang ikut di acara webinar nanti. Biasanya sih kegiatan webinar dilakukan untuk menawarkan/memperkenalkan produk atau jasa dari perusahan/lembaga terkait. 

Para pembuat acara webinar biasanya para sales/marketing. Tema yang akan dibahas hanya untuk memikat para calon konsumen saja, padahal isinya hanya pesan terselubung. Setelah acara webinar selesai, data yang sudah didaftarkan pada saat mengisi formulir pendaftaran akan digunakan untuk menawarkan produk mereka.

Sekarang banyak pihak-pihak yang menawarkan kegiatan webinar abal-abal, yaitu dengan mengatasnamakan orang penting sebagai narasumber. Pihak tersebut sebenarnya hanya membutuhkan nomor telepon dan alamat email untuk dijadikan mangsanya. Setelah tiba tanggalnya, ternyata acaranya ditiadakan, biasanya akan menggunakan alasan narasumber tidak datang dan tidak dapat dihubungi.


WhatsApp Dijadikan Sebagai Sales Zone

Saat ini nomor telepon sering digunakan pada saat mendaftar aplikasi chatting, seperti WhatsApp, Line, Telegram, VK, dll. Di Indonesia WhatsApp menjadi aplikasi chatting yang paling banyak digunakan masyarakatnya. 

WhatsApp tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi saja, melainkan banyak digunakan untuk transaksi jual beli bagi para pebisnis online. 

Ada sebuah kasus tentang percintaan di media sosial, atau bisa dibilang sebuah model baru dari Social Engineering (soceng) atau trap advertising, kalau belum tau tentang Social Engineering bisa baca Apa itu Social Engineering? Contoh dan Cara Mencegahnya. Jadi ada sebuah istilah baru yaitu Sales Zone, bahkan saya sendiri tidak tau kenapa memberi nama tersebut. 

Ketika kita berkenalan di media sosial dengan doi, doi gak nanggung-nanggung ngasih nomor WhatsApp-nya. Setelah itu doi malah spam merek jualannya. Sebelumnya saya kenal dengan doi seperti biasanya pasangan yang baru PDKT. 

Dan disitu kita gak bisa ngobrol masalah hobi, atau macam-macam kesenangan. Karena kita membicarakan tentang produk apa yang mereka jual. Ini pengalaman saya aja, semoga kalian tidak menjadi korban selanjutnya. Semoga kalian tetap waspada saat bertukar informasi di media sosial. 


Media Sosial Sebagai Tempat Bertukar Nomor Telepon Oleh Anak Milenial

Sebagai seorang anak milenial, sering kali saya menemukan teman sebaya yang menggunakan media sosial sebagai tempat bertukar nomor telepon, yaitu dengan tujuan untuk memperbanyak teman atau hanya sekedar meramaikan kontak saja. 

Saya sering menemukannya pada media sosial Facebook. Padahal pada era digital ini nomor telepon sangatlah privasi. 

Bagaimana jika terdapat orang jahat di dalam daftar teman?

Kita kan tidak tau orang lain menambahkan kita sebagai teman atau hanya untuk mendapatkan informasi penting tentangmu. Jadi, bijaklah dalam menggunakan media sosial, jangan mengunggah hal yang bersifat sensitif.


Kesimpulan

Semenjak segala sesuatu diproses secara digital, memberikan nomor telepon terlihat tak bermakna. Misalnya, orang sangat mudah memberikan nomor telepon untuk mendaftar segala layanan internet. 

Nomor telepon sesungguhnya merupakan kartu identitas terkuat pengguna, bahkan dibandingkan nama. Terlebih, nomor telepon sangat erat dengan ponsel, entitas yang lebih dekat dibandingkan pasangan atau keluarga. Umumnya, orang lebih sulit mengganti nomor telepon dengan pertimbangan menjaga pertemanan, relasi, atau pekerjaan.

Pada era digital, nomor telepon sudah menjadi bagian hak privasi dari setiap orang, sudah layak seperti identitas penting yang tidak boleh disebarkan ke publik. Sebab dengan nomor telepon kita dapat mengakses ke beberapa aplikasi/layanan. Maka dari itu kita harus berhati-hati dalam memberikan nomor telepon kepada siapapun.

Muhammad Rifki Apriansyah
Muhammad Rifki Apriansyah Seorang pelajar yang sering berselancar di internet, gemar teknologi, dan menyukai Front-End.

Posting Komentar untuk "Memahami Pentingnya Nomor Telepon"